Arsene baru saja pulang dari sebuah cafe saat waktu sudah menunjukkan larut malam. Langkah kakinya bergema di sepanjang lorong rumah yang sunyi, sebuah lorong panjang yang selalu terasa mengintimidasi dengan arsitektur klasiknya yang dingin. Namun, langkahnya terhenti seketika saat ia melihat siluet tinggi Estevão baru saja keluar dari kamarnya.

Awalnya, Arsene hanya ingin melewati pria itu dan segera masuk ke kamarnya sendiri, mengubur diri dalam tidur. Namun, ia mengurungkan niatnya. Sesuatu yang impulsif namun terencana matang di dalam otaknya mendadak mengambil alih.

Ia berjalan mendekat ke arah suaminya. Malam ini, Estevão tidak memakai setelan jas kaku atau coat hitam panjangnya. Pria itu mengenakan baju tidur berbahan lembut, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan sikap biadab dan tangan dinginnya yang bisa mencabut nyawa kapan saja. Arsene berdiri tepat di hadapan Estevão, ia harus sedikit mendongak karena suaminya itu jauh lebih tinggi darinya.

"Saya harus pakai baju apa besok?" tanya Arsene. Suaranya terdengar lebih lembut, meredam sisa-sisa bara emosi yang biasanya ia tunjukkan.

Estevão menatap manik mata Arsene dengan tatapan yang masih sama, dingin, datar, dan tak terbaca.

"Besok akan kamu lihat sendiri." ucap Estevão tenang, seolah setiap detail hidup Arsene sudah ia susun dalam rencana yang mutlak.

Arsene mengangguk paham, namun ia tidak beranjak dari sana. Keheningan lorong itu seolah memberi keberanian palsu padanya. Arsene justru semakin mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara tubuh mereka. Ia berjinjit dengan pelan, tangannya mungkin tidak menyentuh, namun wajahnya kini begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas Estevão yang beraroma whiskey tipis.

Dengan lembut, Arsene mengecup bibir sang suami. Sebuah ciuman yang terasa ironis di tengah hubungan yang dibangun di atas tumpukan hutang dan ancaman senjata api.

"Regardless of our feelings, I am your husband. And I intend to act like one" bisik Arsene lembut tepat di depan wajah Estevão yang masih sekeras batu.

Anehnya, Estevão tidak marah. Pria itu tidak mendorongnya, tidak mencengkeram lehernya, bahkan tidak memberikan reaksi apa pun. Ia hanya berdiri di sana seperti patung megah yang sedang mematung di dalam kegelapan. Arsene kemudian menarik dirinya dan berjalan menjauh menuju pintu kamarnya tanpa menoleh lagi.