Gala dinner malam itu tampak begitu meriah dan megah. Cahaya lampu kristal memantul di setiap sudut ballroom hotel mewah tersebut, menyinari jajaran staf dan jajaran BOD (Board of Directors) yang berkumpul. Namun, fokus Arsene terganggu oleh satu presensi yang terasa seperti duri, kedatangan Teza Wiratmaja. Pria itu ada di sana, bernapas di udara yang sama dengan mereka.

Arsene memperhatikan suaminya dari kejauhan. Estevão sedang berbicara dengan wibawa yang luar biasa, dingin, namun tetap memikat. Arsene tidak pernah meragukan kapasitas pria itu, Estevão bekerja sangat keras dan memuja kesempurnaan. Ia memang pantas berada di puncak hierarki ini.

"My gratitude also goes to my husband for his strategic support. I now welcome Arsene Salvador to join me on stage. You deserve to be here, as this achievement is as much yours as it is mine."

Akting pun dimulai.

Arsene harus naik ke panggung di bawah tatapan ratusan pasang mata yang memuja keromantisan palsu mereka. Dengan senyuman yang tertata sempurna dan gaya elegan, ia melangkah maju. Ia mendekati Estevão dengan raut wajah yang seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, seolah mereka tidak punya keinginan untuk saling membunuh satu sama lain sebelumnya.

"Jangan berlebihan" bisik Estevão dengan nada sedingin es saat Arsene sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Kapan saya berlebihan, sayang?..." ucap Arsene seolah menantang.

Ia kemudian mengelus rahang tajam suaminya, gerakan yang terasa intim namun penuh provokasi. Biasanya, ia hanya mencium pipi sang suami untuk formalitas, namun kali ini, di depan mata Teza yang sedang mengawasi, Arsene langsung mendaratkan ciuman di bibir Estevão.

Ia ingin menunjukkan kepada Teza bahwa dunia ini adalah miliknya, bukan milik Teza. Ia ingin memperlihatkan bahwa mau bagaimanapun, dirinya tetap menyandang nama belakang yang sama dengan Estevão . Arsene hanya ingin menyakiti Teza, karena ia tahu betapa seringnya pria itu menyakiti Naira. Baginya, penghianatan Teza terhadap istrinya adalah sesuatu yang tidak etis dan menjijikkan.

"Saya harap dia marah kepada kamu" bisik Arsene lagi, menantang maut tepat di telinga suaminya.