Arsene berdiri di depan sebuah pintu kantor usang yang tampak tidak meyakinkan. Papan namanya bertuliskan sebuah perusahaan minyak dan gas yang terdengar generik, namun ia tahu betul bahwa di balik dinding-dinding tua ini, terdapat sarang para agen Interpol (Polisi Kriminalitas Internasional).
Begitu melangkah masuk, suasana gedung tua itu terasa kontras dengan kecanggihan teknologi yang tersembunyi. Victor yang sedang sibuk di balik mejanya langsung mendongak dan menyambutnya dengan anggukan kecil. Di sekitarnya, ada tiga orang lain yang berpenampilan seperti warga biasa, namun sorot mata mereka yang waspada menandakan bahwa mereka adalah agen terlatih.
"Akhirnya kamu datang juga, mari kita bicara di ruangan di dalam” ucap Victor dengan tenang.
Arsene tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya mengikuti langkah Victor menuju sebuah ruangan sempit yang hanya berisi satu meja dan dua kursi besi. Ruangan itu dingin, pengap, dan memiliki atmosfer seperti ruang interogasi, namun hal itu tidak sedikit pun menggetarkan nyali Arsene.
Di atas meja, tumpukan dokumen sudah menunggunya.
"Silakan duduk" ucap Victor. Begitu Arsene duduk berhadapan dengannya, Victor menyandarkan punggungnya.
"Tanyakan apa yang kamu mau tanyakan, baru kita masuk ke dalam kesepakatan."
"Apa yang kamu tau tentang suami saya?" tanya Arsene tanpa basa-basi, langsung menusuk ke inti masalah.
Victor menghela napas pendek, sebuah kejujuran profesional terpancar dari wajahnya.
"Saya tidak bisa begitu melacak suami kamu. Semua organisasi intelijen tau bahwa menembus benteng pertahanan Estevão Salvador itu sangat amatlah susah. Tapi, saya bisa mengetahui banyak hal tentang Teza dan kamu."