Dua hari kemudian, Arsene kembali menemui Victor di sebuah cafe ternama yang lokasinya cukup jauh dari kediamannya. Tempat itu dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah keriuhan pengunjung, Victor tampak sangat membaur dengan kerumunan, mengenakan pakaian kasual yang membuatnya terlihat seperti warga sipil biasa. Ia tersenyum tipis saat melihat Arsene datang dan duduk di hadapannya dengan tenang.

"Mau pesan minuman?" tanya Victor tenang, matanya mengawasi sekitar dengan waspada namun santai.

"Tidak. Kenapa kamu memilih di tempat ini?" tanya Arsene, matanya menelisik keramaian yang menurutnya terlalu berisiko untuk sebuah pertemuan rahasia.

"Agar orang tidak curiga. Dan siapa juga orang yang ingin membicarakan kesepakatan di tengah-tengah cafe yang ramai seperti ini, bukan?" ucap Victor santai lalu menyesap latte-nya, membiarkan kebisingan di sekitar mereka menjadi dinding pelindung bagi percakapan mereka.

Arsene menyandarkan punggungnya, wajahnya mengeras.

"Saya ada beberapa ketentuan kalau kamu ingin saya masuk ke dalam team kamu."

Victor meletakkan cangkirnya, tanda bahwa ia sudah siap mendengarkan dengan serius.

"Kamu harus memberitahu saya semua tentang hubungan suami saya dengan Teza" ucap Arsene sebagai syarat pertama.

"Baik" jawab Victor tanpa ragu.

"Saya tidak mau semua ini akan berdampak kepada Estevão" lanjut Arsene, mengucapkan ketentuan kedua yang membuat kening Victor berkerut.