Hujan mengguyur dengan sangat deras tengah malam itu, mencabik kesunyian dengan suara gemuruh yang mencekam. Arsene memang memiliki ketakutan yang mendalam terhadap suara guntur, suara itu selalu berhasil membuatnya gelisah, memicu ketakutan yang membuat jantungnya berdegup tidak keruan. Keheningan di dalam rumah megah ini justru memperparah keadaannya, membuatnya merasa tercekik dan sama sekali tak bisa memejamkan mata dengan nyenyak.
Dulu, ia masih bisa melarikan diri dari ketakutannya dengan keluar dari apartemen dan turun ke unit milik Nara untuk menginap di sana, namun kali ini ia benar-benar sendirian di tengah kemewahan yang dingin. Didorong oleh rasa takut yang memuncak, ia keluar dari kamarnya. Dengan langkah gila dan lancang, ia berjalan menuju kamar suaminya di ujung lorong.
Ia membuka pintu kamar Estevão tanpa ketukan sama sekali. Saat pintu terbuka, ia mendapati Estevão yang baru saja hendak merebahkan diri untuk tidur, sepertinya baru saja kembali dari entah apa urusan pekerjaannya yang tak habis-habis itu.
"Di luar hujan, saya takut hujan. Jangan keluar." ucap Arsene dengan cepat, suaranya sedikit bergetar. Tanpa menunggu izin, ia dengan lancang langsung merebahkan diri di sisi tempat tidur yang ia tahu tidak ditempati oleh Estevão.
Anehnya, Estevão tidak memberikan reaksi meledak. Ia hanya berbaring terlentang di sebelah Arsene, seakan-akan pria itu menuruti perintah lancang Arsene begitu saja. Ada sesuatu yang tidak biasa, atmosfer di sekitar Estevão terasa berbeda, tidak sekaku biasanya.
Namun, saat suara guntur kembali menggelegar dahsyat membelah langit, Arsene ketakutan bukan main. Secara refleks, ia mencari perlindungan dan memeluk suaminya, namun dengan kasar Estevão langsung mendorongnya menjauh, menolak kontak fisik apa pun. Arsene tersentak, ia tahu tindakannya sangat lancang, namun ia benar-benar tidak bisa mengendalikan ketakutan primitifnya.
"M-maaf" ucap Arsene lirih.
Estevão kemudian memunggunginya, memberikan dinding pembatas berupa punggung yang lebar dan dingin. Arsene tetap diam di dalam keheningan yang menyiksa, namun setidaknya ia tidak sendiri, ada sosok yang paling ia benci menemaninya di ruangan ini.
"L-lain kali saya akan mengusahakan agar tidak mengganggu Anda di saat hujan. Sekali lagi saya minta maaf, tapi hanya untuk kali ini saja." bisik Arsene dengan pelan sebelum akhirnya ia mencoba untuk memejamkan mata.
Arsene sulit untuk benar-benar tertidur karena pikirannya terus berputar, ada ketakutan bahwa mungkin di dalam tidurnya nanti, Estevão akan menghabisi nyawanya. Namun di saat yang sama, ia merasakan aura yang aneh dari pria di sebelahnya. Seakan-akan Estevão sedang menyimpan kekesalan yang mendalam, suaminya itu memang selalu menyeramkan, namun malam ini kemarahannya terasa berbeda, lebih sunyi dan tertutup. Akhirnya, di tengah simfoni hujan yang menakutkan, Arsene tertidur larut karena kelelahan.