Arsene

Aku pulang ke rumah lebih cepat dari hari-hari biasanya. Begitu memasuki pekarangan, aku melihat mobilnya sudah terparkir di sana, kokoh dan dingin. Seketika jantungku berdegup kencang, aku takut. Perasaan gelisah itu merayap di bawah kulitku, namun aku tetap melangkah masuk. Seorang pelayan segera menghampiriku dan memberitahu bahwa Estevão berada di ruang makan. Karena aku sendiri belum makan, aku memutuskan untuk langsung menemuinya di sana.

Dia sudah duduk di sana dengan tenang, namun makanan berlimpah yang tersaji di atas meja sama sekali tak tersentuh olehnya. Aku mengambil tempat duduk di hadapannya, di ujung meja antik mahal yang panjang, yang secara simbolis menciptakan jarak yang cukup jauh di antara kami berdua.

Dia menatapku dengan sorot mata yang sama dinginnya seperti hari-hari biasa, namun hari ini tatapan itu terasa lebih kosong, seperti ada sesuatu yang mati di dalamnya.

Mataku kemudian melirik ke bawah, tertuju pada tangannya yang berada di atas meja. Aku terperanjat dalam diam, tangannya berdarah, penuh sayatan yang terlihat acak, seolah-olah itu bukan sayatan yang disengaja.

Aku tetap diam, berusaha menormalkan napas, dan mulai mengambil nasi secara perlahan. Wajahnya tampak semakin dingin dan hampa, sangat berbeda dari Estevão yang aku kenal, sosok yang biasanya dingin namun penuh dominasi. Kali ini, auranya hanya menyisakan kehampaan yang menyesakkan.

Lalu, sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya dengan suara bariton yang khas.

"How is work?" tanyanya dengan nada yang sulit untuk aku jelaskan.

Dia terlihat merana.

Seharusnya aku bahagia melihatnya seperti ini, karena bukankah ini tujuanku?