Malam puncak pameran Le Loup Noir telah tiba, membalut galeri Mahasastra dalam kemewahan yang kelam. Arsene sengaja merancang atmosfer ini agar terasa intimidatif, elegan, sekaligus misterius, persis seperti suaminya. Pameran ini bukan sekadar pajangan seni, melainkan refleksi visual dari pandangannya terhadap sosok Estevão Salvador.
Dari atas podium, Arsene bisa melihat Victor dan timnya berbaur dengan presisi di antara para tamu konglomerat, mengintai setiap gerak-gerik Teza Wiratmaja. Sementara itu, para tamu sibuk dengan gelas champagne mereka, tidak menyadari bahwa keindahan di sekitar mereka adalah jebakan yang mulai menutup.
Arsene, yang terlihat sangat berwibawa dalam balutan turtleneck dan jas mewahnya, akhirnya menarik kain hitam yang menutupi lukisan utama.
"Selamat malam Bapak Ibu yang saya hormati, terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini malam ini. Suatu kehormatan bagi saya untuk menampilkan karya utama pada pameran malam ini" ucap Arsene sebelum memamerkan kanvas abstrak yang pekat.
"Banyak yang bertanya mengapa saya memilih judul ini untuk sebuah karya yang tampak hanya seperti kumpulan kegelapan. Le Loup Noir bukan tentang hewan, bukan pula tentang bayangan. Ia adalah studi tentang otoritas yang tenang. Dalam abstrak ini, saya mencoba menangkap momen tepat sebelum pemangsa menerkam, keheningan yang sangat berat, yang mampu membuat napasmu tertahan tanpa kalian sadari. Perhatikan garis-garis hitam pekat yang saling mengunci di tengah ini, itu adalah representasi dari sebuah perlindungan yang posesif. Sebuah kekuatan yang tidak perlu pamer, namun sanggup meremukkan apa pun yang berani mengusik wilayahnya. Bagi saya, karya ini menggambarkan sosok yang menguasai malam. Seseorang yang berdiri di titik buta hukum, namun memiliki aturan mainnya sendiri. Ia berbahaya, tentu saja. Tapi bukankah hal yang paling berbahaya biasanya adalah yang paling memikat?"
Arsene menutup pidatonya dengan santai, matanya tertuju langsung pada Estevão yang berdiri kokoh di tengah ruangan. Suara tepuk tangan menggema dengan bangga di seluruh galeri, namun Estevão tetap diam.
Tatapannya dingin, namun kali ini bukan tertuju pada wajah Arsene. Mata pria itu terpaku pada leher Arsene, pada kalung berliontin serigala emas putih yang begitu ia kenali. Kalung pemberian Teza yang Arsene curi dari kamarnya.
Dengan akting paling luar biasa dalam hidupnya, Arsene turun dari podium kecil itu dan menghampiri suaminya yang berdiri berdampingan dengan Teza.
"Hai, sayang" sapa Arsene lembut.
Teza langsung mematung, matanya terbelalak melihat kalung itu melingkar di leher pria yang paling ia benci.