Estevão

Semua berawal dari api kemarahan yang tidak bisa lagi saya bendung. Sebuah amarah hitam yang membakar habis akal sehat saya ketika menyadari bahwa sosok yang saya cintai, pria yang seharusnya hanya menghirup napas untuk saya, akan memiliki buah hati bersama istrinya. Logika saya hancur berkeping-keping. Membayangkan ada darah daging Teza yang tumbuh di rahim orang lain adalah penghinaan paling menjijikkan yang pernah saya rasakan.

Dan dalam kegilaan itu, saya menciptakan sebuah skenario iblis.

Saya membuat kesepakatan dengan anak keparat yang sangat merugikan saya, Arsene Wirasena. Saya masih ingat betul bagaimana dia menangis di hadapan saya, memohon dengan suara parau agar saya tidak menghancurkan galerinya. Saya menatapnya dari puncak takhta, melihatnya memelas bahwa galeri itu adalah hidupnya, adalah nafasnya.

Di situlah otak saya yang haus akan kendali berbisik, saya bisa menggunakan pion malang ini sebagai alat untuk menyeret Teza kembali ke pelukan saya sepenuhnya.

Sebuah transaksi pernikahan.

Jika Teza melihat saya memiliki orang lain, jika dia dibakar cemburu yang hebat, dia akan merangkak kembali dan menceraikan istrinya demi saya.

Saya sudah gila, saya sudah haus akan kepemilikan mutlak.

Dan saat rencana besar ini seharusnya berjalan dengan sempurna sesuai naskah yang saya tulis, bajingan kecil ini justru mulai bertingkah di luar kendali. Dia menghancurkan segalanya dengan keberanian yang menjijikkan. Dia memakai kalung itu, menyentuh saya di depan umum, dan bersekutu dengan Naira.

Dia bertingkah seakan saya bodoh.