Arsene duduk mematung di dalam mobil yang dipenuhi keheningan yang mencekik. Estevão mencengkeram kemudi, urat-urat tangannya menonjol, memacu kendaraan itu dengan kecepatan gila yang menantang maut. Arsene tahu, setiap detak jantungnya saat ini adalah hitungan mundur. Ia akan membayar tunai setiap inci provokasi yang ia lakukan di galeri tadi.

Ada rasa takut yang merayap dingin di tulang belakangnya, namun di balik itu, ia merasa pasrah.

Kalau hari ini gue mati, mungkin memang ini akhir dari naskah busuk ini pikirnya pahit.

Mereka tiba di rumah dalam waktu yang jauh lebih singkat dari biasanya, seolah maut sendiri yang membukakan jalan bagi mereka. Estevão keluar, membanting pintu mobil dengan dentuman yang begitu keras hingga tanah di bawah kaki Arsene seakan bergetar. Tak lama kemudian, pintu di sisi Arsene tersentak terbuka.

Dengan kasar dan mengerikan, Estevão menyambar kerah jas mewah Arsene, meremas kain mahal itu hingga mencekik lehernya, lalu menyeretnya keluar seolah Arsene hanyalah bangkai tanpa harga.

"LEPAS!" teriak Arsene, meronta dengan sisa tenaganya.

Namun kekuatan Estevão malam ini benar-benar tidak manusiawi. Ia menyeret Arsene melewati lorong-lorong megah, menaiki tangga demi tangga tanpa memedulikan tubuh Arsene yang tersandung dan terbentur berkali-kali. Estevão tidak lagi terlihat seperti manusia, ia adalah predator yang sedang membawa mangsanya ke dalam liang gelap.

Tubuh Arsene gemetar hebat saat mereka sampai di depan kamar. Estevão mengayunkan lengannya, melempar Arsene ke lantai marmer dengan kekuatan yang membuat paru-parunya seolah tak berfungsi.

"Qui t'a donné le droit de me tenir tête ? Tu sembles oublier à qui tu appartiens. Ne joue pas avec mes nerfs, ou tu vas le regretter." (Siapa yang memberimu hak untuk menentang saya? Kamu sepertinya lupa milik siapa kamu. Jangan bermain-main dengan kesabaran saya, atau kamu akan menyesal.)

Suara itu rendah, serak, dan penuh dengan racun yang mematikan.