Arsene duduk di mejanya dengan sikap santai yang menjadi ciri khasnya. Sejak awal membangun galeri ini, ia memang sengaja menerapkan budaya kerja yang cair, tanpa hirarki yang kaku. Sebagai seorang Director sekaligus Curator, ia menolak memiliki ruangan privat yang tertutup tembok kaca. Ia lebih memilih untuk melebur, menempatkan mejanya sejajar dengan stafnya yang lain, berbagi ruang dan udara yang sama.

Dulu, sebelum badai hutang 300 miliar milik ayahnya menghantam dan menyeretnya ke dalam kegelapan, staf di galeri ini cukup banyak dan produktif. Namun kini, realita berkata lain. Galeri itu kini hanya digerakkan oleh napas yang tersisa, empat staf back office, tiga janitor, dan dua security. Sisanya? Mereka hanya akan mengandalkan tenaga freelancer saat hari H pameran tiba.

Mitha, sang registrar yang mejanya berada tepat di sebelah Arsene, sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari pria itu. Sosok perempuan periang itu tampak menahan sesuatu di ujung lidahnya.

"Pak" panggil Mitha dengan nada penasaran yang sulit disembunyikan.

"Hm?" jawab Arsene singkat. Tangannya bergerak membuka termos kecil miliknya, lalu menyesap kopi hitam yang aromanya mulai memenuhi area meja kerja mereka.

"Kayak gimana rasanya nikah sama konglomerat?" tanya Mitha polos, seolah pernikahan Arsene adalah sebuah dongeng Cinderella versi modern.

"Kayak tai" ucap Arsene lirih. Suaranya tidak terlalu jelas karena bibirnya masih asyik menempel pada pinggiran termos kopi itu.

"Kayak apa, Pak?" tanya Mitha, memastikan pendengarannya.

"Kayak biasa aja" sahut Arsene, kali ini dengan artikulasi yang lebih jelas sambil meletakkan termosnya. Matanya kembali fokus pada layar monitor, menyembunyikan kilat getir yang sempat melintas.

"Tapi kalau Bapak minta apa pun, pasti dikasih ya?" Mitha masih belum menyerah dengan rasa penasarannya.