Arsene dengan cepat keluar dari kamar dengan wajah pucat karena tidak makan selama dua hari. Ia enggan menyentuh makanan apa pun karena rasa mual dan marah yang lebih mendominasi lambungnya. Sebenarnya Estevão sudah membuka kunci kamarnya kemarin pagi, tapi Arsene enggan keluar, ia memilih mengurung diri dalam diam sampai emosinya benar-benar stabil untuk menyusun rencana baru.
Ia berjalan menuju ruang kerja pribadi suaminya yang tak jauh dari kamarnya. Ia membuka ruangan itu dengan gerakan asal dan begitu terburu-buru. Ia mencari clue ke mana sosok suaminya itu pergi malam ini. Ia membuka segala laci di meja kerja suaminya yang berat dan beraroma kayu tua itu. Ia mencari ke setiap rak buku tinggi yang memajang ribuan buku di ruang kerja tersebut.
"Anjir...." Arsene frustrasi karena meja itu tampak terlalu rapi untuk menyimpan rahasia.
Lalu Arsene melihat satu journal, dan itu adalah journal jadwal suaminya. Anehnya kenapa ditinggalkan di sini, tapi Arsene tidak peduli. Ia membukanya, mencari tanggal hari ini, dan matanya membelalak saat melihat bahwa pukul 7 malam jadwal Estevão kosong sampai jam 9 malam.
"Ini... ini pasti... ini pasti jamnya" ucap Arsene menunjuk jadwal journal itu dengan jari yang sedikit gemetar.
Ia langsung mengembalikan semua hal di tempatnya dan ia langsung keluar, berjalan cepat menuju ruang istirahat pelayan-pelayannya. Melihat Arsene datang, pelayannya semua panik dan merapikan diri, takut akan aura gelap yang dibawa tuan mereka.
"Santai, saya mau ngomong sama Bibi" ucap Arsene tanpa mempedulikan yang lain.
Bibi langsung keluar dari ruang istirahat itu, dan Arsene menarik Bibi ke area dapur yang lebih sepi.
"Bapak kalau ke bar sukanya ke mana?" tanya Arsene kepada Bibi, karena ia tahu Bibi bekerja paling lama di sini dan tahu semua kebiasaan buruk hingga kebiasaan mewah tuannya.
"Violet Jazz Bar... kalau tidak ke Macron Bar Pak" ucap Bibi.