"Kamu yakin mereka ada di sini?" tanya Victor dari dalam kendaraan van yang dipenuhi alat penyadap suara canggih dan deretan layar monitor yang berpijar dingin.

"Iya, jam 7.30" jawab Arsene singkat. Wajahnya masih pucat, namun matanya memancarkan tekad yang tajam. Di sebelahnya, Nara hanya bisa terduduk bingung, ia tidak menyangka akan dibawa ke dalam pusat operasi intelijen seperti ini. Tim bentukan Victor sudah bergerak di lapangan, menyamar dengan sempurna sebagai staf VIP di Violet Jazz Bar.

"Dimana tepatnya?" suara Tom terdengar melalui ear monitor. Ia sudah mengenakan seragam pelayan, bergerak lincah di antara kerumunan tamu kelas atas.

"Ruang VIP 609." sahut Arsene melalui alat komunikasi.

Awalnya, Arsene bersikeras ingin turun langsung, namun Victor menahannya. Estevão bukan pria bodoh, satu lirikan saja, ia akan mengenali keberadaan suaminya.

"Sharp 7.40, masuk dan bawa wine pesanan mereka." perintah Victor memandu timnya. Sementara itu, Larry sibuk mengatur frekuensi agar sinyal penyadap tetap bersih.

"Copy." balas Tom. Kamera kecil yang tersembunyi di dasi kupu-kupunya mulai mengirimkan gambar ke layar monitor di dalam van.

Tepat pukul 7.40 malam, pintu ruang 609 terbuka. Di layar monitor, Arsene terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat senyuman di wajah Estevão. Senyuman itu sangat tipis, hampir tidak terlihat bagi orang awam, namun bagi Arsene yang setiap hari mempelajari setiap inci kedinginan suaminya, ia tahu itu adalah senyuman bahagia.

Teza mencium bibir Estevão dengan anggun, dan pria yang biasanya menolak sentuhan itu justru menikmatinya.

Di dalam ruangan, Tom dengan lihai menuangkan wine tua yang harganya selangit. Dengan gerakan tangan yang tak terbaca, ia menempelkan alat penyadap sekecil kancing di bawah meja kayu mahoni itu.