Arsene melangkah keluar dari kamarnya dengan sisa-sisa tenaga yang dipaksakan. Tubuhnya masih terasa lemas, sisa dari dua malam yang ia habiskan di bawah pengawasan dokter rumah sakit setelah pingsan di tengah hujan yang ia benci.

Namun, rasa sakit di fisiknya tidak sebanding dengan rasa hina yang membakar jiwanya. Selama dua malam itu, Estevão tidak pernah datang. Tidak ada panggilan, tidak ada bunga, bahkan tidak ada satu pun orang suruhannya yang dikirim untuk sekadar memastikan Arsene masih bernapas, hanya ada orang yang datang untuk membayar semuanya. Arsene tahu benar, saat ia berjuang melawan demam, suaminya sedang memuaskan hasrat di pelukan selingkuhannya.

Ia menuruni tangga dengan langkah yang bergetar, setiap pijakan terasa seperti duri. Tujuannya adalah ruang makan, tempat Bibi sudah menyiapkan potongan buah sebagai asupan pertama yang ia mau terima. Awalnya Bibi memohon untuk mengantarkannya ke kamar, namun Arsene menolak.

Sesampainya di ruang makan, keheningan menyambutnya, keheningan yang berat dan menyesakkan. Di atas meja, piring buah itu bersanding dengan satu cangkir kopi hitam yang aromanya begitu pahit, persis seperti suasana hati Arsene. Dan di sana, duduk sang Le Loup Noir.

Estevão tampak begitu tenang, sedang menelaah grafik rumit di iPad-nya. Ia mengenakan baju tidur sutra yang begitu pas membungkus tubuh kekarnya, menampilkan sisi yang jarang terlihat, sebuah tato di lengan kanannya yang begitu cantik, rumit, dan memenuhi kulitnya yang eksotis. Ini pertama kalinya Arsene melihat karya seni yang tersembunyi di balik jas mahal suaminya itu.

Arsene menelan ludahnya perlahan, tenggorokannya terasa kering melihat sosok yang baru saja mengkhianatinya begitu terang-terangan di depan kamera penyadap tempo hari.

Ia mendekat, melangkah perlahan sampai ia berdiri tepat di samping pria yang tidak memberikan atensi sedikit pun padanya. Estevão bahkan tidak menoleh, seolah kehadiran Arsene hanyalah gangguan debu yang tak berarti.

Arsene kemudian mengulurkan tangannya, menyentuh rahang Estevão yang tajam. Ia mengelusnya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah ia sedang mengagumi sebuah mahakarya. Estevão berhenti dari aktivitasnya, ia perlahan mendongak, menatap manik mata Arsene dengan mata gelapnya yang hampa namun mengintimidasi.

Dalam detik yang terasa membeku itu, Arsene memandangi wajah yang ia anggap sebagai misunderstood masterpiece itu, lalu tanpa peringatan...

PLAK!