Arsene baru saja pulang kerja, namun pemandangan di depan matanya seketika menyulut api di kepalanya. Di depannya, ia melihat mobil suaminya baru saja memasuki jalan khusus yang membelah pepohonan rindang menuju pekarangan rumah mereka, sebuah jalanan pribadi yang indah dan tenang layaknya resort mewah, namun bagi Arsene, itu adalah jalan menuju neraka.
Pikirannya gelap. Suaminya baru pulang setelah empat hari menghilang tanpa kabar. Arsene tahu persis ke mana pria itu pergi, Teza lagi, dan selalu Teza. Rasa sakit karena diabaikan saat sakit dan dihina dengan perselingkuhan itu kini meledak menjadi kegilaan murni.
Tanpa pikir panjang, Arsene menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobilnya melesat kencang, menghantam bagian belakang mobil Estevão dengan dentuman logam yang memekakkan telinga.
"MATI LO ANJING, MATI!" teriak Arsene di balik kemudi, matanya merah karena amarah dan air mata yang menggenang.
Estevão bereaksi cepat, ia membanting setir, mencoba menukik untuk menghindar. Namun Arsene sudah kehilangan akal sehatnya. Ia memutar balik mobilnya hingga kini posisi mereka saling berhadapan di tengah jalanan sepi itu. Bukannya berhenti, Arsene justru kembali menancap gas, menabrakkan bagian depan mobilnya langsung ke wajah mobil Estevão.
BRAKK!
"MATI BANGSAT, MATI!" raungnya lagi, menghantamkan tubuh mobilnya berkali-kali ke arah suaminya.
"BUKAN UTANG GUE KENAPA GUE YANG BAYAR, ANJING! BABI! DASAR SETAN!"
Arsene berteriak gila, memukul-mukul kemudi sambil terus menabrakkan mobilnya. Estevão benar-benar telah menghancurkan kewarasannya. Ia ingin pria itu hancur, sama hancurnya dengan harga diri Arsene yang diinjak-injak selama ini.
Pintu mobil depan terbuka. Estevão keluar dengan gerakan taktis yang mengerikan. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menarik Glock dari balik jasnya dan mengarahkannya langsung ke arah Arsene yang masih berada di balik kemudi.