Arsene datang ke galeri miliknya dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Satria sudah menunggu dengan sigap, membawa tumpukan dokumen transaksi untuk pembelian lukisan yang pernah ia buat, Le Loup Noir.
"Janjiannya di client VIP lounge Pak, sekitar sepuluh menit lagi Ibunya datang" ucap Satria memberitahu atasannya.
Arsene mengangguk tenang. Ia berjalan menuju lounge eksklusif itu, berusaha menjaga ekspektasinya. Meski ini adalah lukisan seharga 300 miliar, ia tidak ingin terlalu berharap sebelum uangnya benar-benar masuk ke rekening galeri.
Ia menunggu bersama Satria beberapa saat, sebelum akhirnya asistennya itu pamit keluar untuk menjemput sang pembeli. Pintu terbuka, dan masuklah seorang perempuan yang tampak begitu manis, rapi, dan memancarkan aura kelas atas yang kental.
"Halo Pak Arsene, saya Tatiana" ucapnya dengan ramah. Mereka berjabat tangan secara profesional.
Nama itu terasa sangat asing bagi Arsene, namun ia menyambutnya dengan senyum paling ramah yang bisa ia berikan. Wanita ini adalah jalan keluar satu-satunya dari jeratan Estevão.
"Silakan Ibu duduk" ucap Arsene, senyumnya mengembang tulus.
"Saya ada date sama tunangan saya hari ini, jadi saya gak bisa lama-lama ya Pak" ucap Tatiana sambil meletakkan tas mahalnya di samping kursi. Pakaian yang ia kenakan jelas bukan barang sembarangan, ia tampak seperti anak konglomerat pada umumnya yang hidup tanpa beban.
"Kalau begitu kita bisa langsung mulai. Kenapa Ibu mau membeli karya ini?" tanya Arsene tanpa basa-basi, ingin menguji ketertarikan sang kolektor.
"Waktu saya lihat di website lelang galeri ini, saya langsung jatuh cinta. Dan saya juga konsultasi dengan tunangan saya, ternyata tunangan saya juga suka. Kita punya satu ruangan yang cocok sekali untuk lukisan ini di rumah kami." ucap Tatiana dengan mata berbinar. Ia tampak begitu antusias, kontras dengan objek lukisannya yang menggambarkan kegelapan dan otoritas dingin.