Malam ini, Arsene dan Victor benar-benar seperti sedang mencari mati. Mereka duduk di sebuah restaurant fine dining di puncak gedung pencakar langit dengan pemandangan kota yang gemerlap. Harganya fantastis, namun suasananya terasa mencekam bagi Arsene. Dengan penyamaran yang luar biasa, mereka mengambil posisi duduk yang cukup jauh, namun tetap dalam jangkauan pandang ke arah meja di mana Estevão dan Teza sedang berada.
"Jangan gelisah, nanti mereka bisa menyadari" bisik Victor sangat tenang.
Untuk meyakinkan sandiwara mereka, Victor mulai beraksi dengan mengelus tangan Arsene lembut, berlagak layaknya seorang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
"Kita harus ambil foto mereka" ucap Arsene dengan suara yang hampir tidak terdengar, matanya tetap waspada.
Victor kemudian menarik tangan Arsene dan menciumnya dengan khidmat, sebuah gestur yang tampak begitu romantis dari kejauhan.
"Sedang saya lakukan" jawabnya pelan, sementara kacamata canggih yang ia kenakan terus bekerja menangkap setiap momen di meja seberang.
Mereka terus berlagak sembari mulai menyantap hidangan mewah di depan mereka. Arsene duduk membelakangi posisi suaminya, sementara Victor yang menghadap ke arah sana mencoba memetakan situasi.
"Tapi bukti ini tidak cukup kuat, mereka tidak terlihat mesra" gumam Victor, sedikit kecewa dengan interaksi kaku di meja Estevão.
Arsene terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat.
"Suruh Larry. Jangan Tom, tapi Larry yang standby di basement. Cari mobil Estevão dan kalau bisa parkir di dekat tapi tidak terlalu dekat dengan mobilnya. Pasti akan ada kemesraan yang mereka lakukan di sana." perintah Arsene dingin. Ia tahu betul, Estevão adalah pria yang menjaga privasi di ruang publik, namun akan sangat lepas jika sudah berada di area pribadinya.