Arsene melangkah masuk ke lobby apartemen Nara dengan napas yang memburu. Sesuai janji, Nara sudah menunggu di sana untuk membukakan akses lift bagi sahabatnya. Di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, keheningan terasa mencekam. Nara berkali-kali melirik Arsene, mencoba membaca raut wajah yang tampak begitu tegang sekaligus penuh dendam.

"Ada apa sih, Sen? Lo kenapa buru-buru banget dateng malam-malam begini?" tanya Nara, suaranya sarat akan kekhawatiran.

"Nanti gue cerita, Ra." sahut Arsene dingin.

Begitu pintu lift terbuka, mereka segera melesat masuk ke unit apartemen Nara. Di sana, sebuah printer sudah terpasang rapi di atas meja sesuai instruksi Arsene sebelumnya.

"Pinjam laptop lo juga" pinta Arsene.

Nara dengan sigap mengambil laptop-nya dan meletakkannya di meja ruang TV. Mereka berdua duduk lesehan di lantai, sementara Nara hanya bisa menonton saat Arsene menautkan sebuah USB kecil yang sangat berharga. Begitu dokumen itu terbuka di layar, Nara tersentak. Meski ia sudah tahu tentang hubungan gelap suaminya Arsene, melihat bukti visual yang begitu nyata tetap saja membuatnya mual.

"Lo mau ngapain, gila?!" tanya Nara panik, matanya membelalak menatap layar.

"Gue mau sebar ini semua ke publik." ucap Arsene dengan tekad yang sudah bulat. Suaranya tidak bergetar sedikit pun.

"Lo bener-bener sudah gila, ya? Gimana caranya lo mau lawan mereka? Mereka itu monster, Sen!"

"Setidaknya kalau gue mati, dunia akan tau kalau mereka itu dua manusia bajingan yang udah menyakiti gue dan Naira." ucap Arsene sambil mulai mencetak foto-foto itu satu per satu. Bunyi mesin printer yang berderit di tengah malam seakan menjadi genderang perang.