Nara menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih tidak keruan. Kegelisahan mulai menggerogotinya karena sejak subuh tadi ia tidak mendengar desas-desus atau kehebohan apa pun. Ia takut rencananya dengan Arsene gagal total hanya karena salah sasaran atau amplop itu berakhir di tempat sampah.

Ia memutuskan untuk turun ke lobby dan mendekati satpam yang sedang berjaga, mencoba mencari informasi dengan cara yang paling halus.

"Pak, mau nanya deh, siapa itu jurnalis yang sering yoga di deket kolam renang?" tanya Nara sambil berpura-pura merapikan kunciran rambutnya, berusaha terlihat santai di depan satpam tower mereka.

"Oh, Bu Ambar?" jawab satpam itu cepat, seolah sudah hafal dengan penghuni di sana.

"Yang tinggal di lantai tujuh itu kan?" tanya Nara lagi, memastikan bahwa unit 0107B memang benar milik orang yang dimaksud Arsene.

"Iya Bu, kenapa?" tanya sang satpam penasaran.

"Kemana deh? Mau nanya tentang yoga tapi kan biasanya ketemu di lobby, kok sekarang malah gak ketemu" ucap Nara, membangun skenario yang terdengar sangat masuk akal agar tidak mengundang kecurigaan.

"Oh, Bu Ambar kemarin itu baru pergi ke Sumba, katanya besok baru pulang" jelas sang satpam dengan ramah.

Seketika, ketegangan di bahu Nara mengendur. Wajahnya yang semula kaku mulai terlihat rileks karena ia mendapatkan fakta yang melegakan, sang pemilik unit bukannya tidak tertarik, tapi memang sedang tidak berada di rumahnya.

"Pantesss..." ucap Nara dengan nada yang dibuat seolah baru saja mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.