Arsene melangkah masuk ke rumahnya tepat pukul sembilan malam. Ia menyusuri lorong megah yang selalu terasa sunyi, seolah dinding-dinding itu ikut membeku. Namun, langkahnya terhenti saat melihat pintu ruang kerja suaminya terbuka sedikit, membiarkan cahaya lampu menyala terang di tengah kegelapan rumah.

"You wanted to tell me something?" tanya Arsene kepada Estevão dari ambang pintu.

Estevão hanya diam, menatap Arsene dari balik meja kerjanya dengan pandangan yang sulit dibaca.

Pikiran Arsene melayang pada surat misterius di kantor Victor.

Surat-surat itu berisi teka-teki yang menyebutkan bahwa ia harus menemui sang pengirim di tempat yang familiar tapi tak bisa ia jamah. Kalimat tentang "akhir nafas masa" juga membuatnya yakin bahwa pertemuan itu harus terjadi tepat pada tengah malam. Arsene sangat yakin pelakunya adalah Estevão yang sedang mencoba bermain psikologis dengannya.

"Nothing to say, then?" tanya Arsene lagi, merasa bingung karena suaminya hanya diam.

"Do I look like I have any time to waste on someone like you?" jawab suaminya dengan nada yang begitu dingin, datar, dan sarat akan kesan menjijikkan.

Arsene tertegun.

Jawaban itu terlalu jujur dalam kekejamannya.

Berarti bukan suaminya yang mengirim surat-surat itu?