Arsene berjalan membelah lorong yang terasa begitu asing sekaligus menindas. Lantai 81, tingkat paling atas dari gedung pencakar langit ini, adalah wilayah kekuasaan absolut suaminya. Eksklusif, sibuk, dan dipenuhi oleh aura dominasi yang pekat.
"Selamat datang, Tuan. Tuan Salvador sudah menunggu Anda." ucap Samuel, asisten pribadi suaminya, menyambut dengan nada bicara yang sangat terukur.
Pintu besar itu terbuka, dan aroma ruang kerja Estevão segera menyergap indra penciuman Arsene. Perpaduan antara musk oud yang maskulin, wangi cigar mahal, dan sisa aroma whiskey. Estevão sudah duduk di sofa, terlihat sangat mengintimidasi dengan jas Armani yang membalut tubuh tingginya dengan sempurna. Pria itu tampak seperti dewa kematian yang sedang beristirahat di tengah tumpukan harta karunnya.
Tanpa sapaan atau basa-basi, Arsene langsung duduk di sofa yang menghadap suaminya. Matanya tertuju pada meja di antara mereka, enam lembar kertas tertata rapi di sana.
"I have fifteen minutes. We’re finishing this fast." ucap suaminya dengan nada yang begitu angkuh dan dingin, bahkan tanpa melirik Arsene sedetik pun.
"Saya minta kamu tanda tangani ini semua” lanjutnya datar.
Arsene mengerutkan kening, bingung. Tangannya meraih lembaran itu dan membacanya dengan seksama. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat ia menyadari apa yang ia pegang, surat kepemilikan enam gedung galeri. Dan yang paling mengejutkan, nama Arsene Wirasena sudah tercantum di sana sebagai pemilik baru. Ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak terduga.
"Exit Way. Saya memberikan kamu itu." ucap Estevão sambil mengembuskan asap cerutunya ke udara.
Transaksi.
Arsene nyaris lupa siapa sosok yang ada di hadapannya. Estevão Salvador adalah pria yang benci kerugian walau hanya sepeser pun. Dia adalah orang kaya yang serakah dan biadab dalam urusan bisnis. Segala sesuatu dalam hidupnya adalah tentang untung dan rugi.
"Maksud Anda?" tanya Arsene, masih berusaha mencerna informasi yang menghantamnya.