Arsene berada di kantor Victor. Dengan tampang yang masih bingung dan raut wajah pucat yang tak bisa disembunyikan, akhirnya Victor, Larry, dan Tom bersama Arsene duduk di satu ruangan yang tertutup rapat, kedap suara dari hiruk-pikuk aktivitas siang hari di luar sana. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai terasa begitu kontras dengan atmosfir dingin dan berat yang menyelimuti mereka berdua.

"Bukti yang kamu kasih itu sudah kami punya sejak beberapa bulan yang lalu" ucap Victor dengan suara rendah yang sarat akan kesedihan, menatap buku tabungan Samuel yang baru saja Arsene banggakan sebagai temuan emasnya.

Arsene tertegun, tangannya yang masih memegang pinggiran meja terasa dingin. Harapan yang tadi sempat meluap-luap di dadanya kini seolah tersiram air es. Ia merasa bodoh karena mengira telah menemukan sesuatu yang besar, sementara para profesional ini ternyata sudah lama menggenggamnya.

"Yang baru kita selidiki adalah..." ucap Victor menggantung kalimatnya.

Ia menatap Larry dan Tom sejenak, sebuah kontak mata yang penuh keraguan seakan tidak enak memberikan fakta ini kepada sosok pria di hadapan mereka yang tampak begitu rapuh namun keras kepala.

"Apa?" desak Arsene. Suaranya pecah, matanya menatap Victor dengan tuntutan yang tak bisa ditunda. Ia butuh kejelasan, betapapun pahitnya itu.

"Kami mendengar bahwa Suami kamu... akan menikahi Teza secepatnya.... itu yang saya dapat dari salah satu agent kami yang kerja di Wiratmaja. Teza yang bilang seperti itu.. dan dia bilang dari agent kami yang menggalinya dari asisten pribadi Teza, suami kamu... menyuruh tunangan dari sepupunya untuk membeli karya lukis kamu agar hutang itu terbayar... dan dia bisa menceraikan kamu begitu saja." ucap Victor pelan. Setiap kata yang keluar dari bibir Victor terasa seperti belati yang menusuk tepat ke ulu hati Arsene.

Arsene merasa oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Ia tidak bisa bernapas. Jadi, Tatiana, cheque 75 miliar itu, dan antusiasme pembelian lukisannya hanyalah sebuah sandiwara besar yang didalangi suaminya sendiri. Estevão membelinya dengan uangnya sendiri hanya untuk bisa membuangnya seperti sampah tak berharga setelah semua urusan hutang-piutang itu dianggap lunas di atas kertas.

"Arsaka Gray, mungkin kamu tidak kenal karena kamu juga baru masuk di keluarga ini... itu pembeli lukisan kamu" ucap Larry memperjelas, seolah ingin menekankan betapa rapinya jaringan keluarga Salvador bekerja di belakang punggung Arsene untuk menyingkirkannya.

Rasa sakit yang hebat kini berubah menjadi amarah yang mendidih di balik kulit pucat Arsene. Ia merasa dikhianati oleh setiap orang, bahkan oleh harapan yang ia ciptakan sendiri.