Arsene sudah berada di restoran mewah itu, menyesuaikan setelan mahalnya dengan napas yang ia atur sedemikian rupa agar tampak tenang. Ia tahu tugasnya malam ini sederhana namun berat, bersikap baik di depan kakak kedua suaminya, Nael. Hanya Nael yang hadir bersama suaminya, Rayasena, sementara kakak pertama Estevão berhalangan hadir karena urusan bisnis yang mendesak.

Mereka tidak datang berdua, ada Antoine di sana, pria kecil berusia tiga tahun yang merupakan putra mereka.

"Oh my Arsene! Kecintaan tanah air kita akhirnya datang juga!" ucap Nael menyambut Arsene dengan pelukan hangat dan energi yang meluap-luap, kontras dengan atmosfer dingin yang biasanya menyelimuti keluarga Salvador.

"Ih, setelah pernikahan kita baru ketemu lagi ya?" sahut Rayasena. Ia tampak sedikit kewalahan karena sedang sibuk menenangkan Antoine yang terus merengek dan menangis di pelukannya.

Arsene memberikan senyum manis andalannya, ia duduk di sebelah Estevão yang hanya diam membeku layaknya patung es. Antoine masih menangis, suaranya memenuhi ruang VIP itu. Arsene hanya bisa menatap Rayasena dan Nael yang bahu-membahu menenangkan anak mereka dengan raut wajah tidak enak hati.

"Maaf ya, tadi dia lagi asik tidur terus kita bangunin paksa biar bisa ikut ke sini" ucap Nael sambil mengusap keringat di dahi anaknya.

"Jadi, apa kabar kalian berdua?" tanya Nael kemudian, mencoba membuka obrolan santai setelah suasana sedikit kondusif.

"Baik..." ucap Arsene dengan senyum lebar yang ia paksakan muncul hingga ke mata.

"Tahan kamu sama manusia es ini?" tanya Rayasena sambil tertawa kecil, melirik adik iparnya dengan nada bercanda yang akrab.

"Gak sedingin itu kok Kak..." sahut Arsene bohong.