Arsene kini sudah berada di rumah, melangkah gontai menyusuri lantai marmer yang terasa sedingin es. Pikirannya masih dipenuhi oleh wajah manis Antoine dan potongan daging steak yang diberikan Estevão tadi, perhatian kecil yang terasa seperti hinaan bagi hatinya yang sedang hancur.

Ia memutuskan untuk kembali ke kamar utama. Meskipun tahu kehadirannya tidak akan pernah diinginkan, ia tetap merebahkan diri di sisi tempat tidur yang luas itu, tepat di sebelah tubuh pria yang selalu memunggungi dunianya.

Di bawah remang cahaya lampu tidur, Arsene menatap punggung kekar Estevão yang naik turun dengan teratur. Kesunyian malam yang pekat mendadak terasa menyesakkan, memaksa kejujuran dalam dirinya meluap keluar dalam bentuk bisikan yang getir.

"Kamu tau... saya itu bingung... bingung sama keadaan ini. Saya setiap malam berpikir, wajar kamu marah sama saya. Perjanjian kita itu jelas, saya hanya harus jadi suami pajangan kamu dan kamu bisa berbuat apa saja di luar sana... tapi kenapa saya tidak terima akan hal itu?" ucap Arsene pelan. Suaranya serak, bergetar menahan gejolak di dadanya.

Ia menarik napas panjang, menatap bayangan suaminya di dinding yang seolah sedang menertawakan kerapuhannya.

"You call love overrated, but to me, it's a privilege I never thought someone like me could have."

Arsene menjeda kalimatnya, menelan rasa pahit yang menyumbat tenggorokan.

"Cinta yang kamu punya itu cinta yang marah. Kamu marah atas pengkhianatan yang kamu rasakan... tapi kamu juga masih mencintai sosok itu dengan cinta yang begitu besar.”

“Sama halnya dengan cinta yang saya punya, itu adalah cinta yang marah. Karena setiap kamu memberikan saya perhatian kecil, saya marah dengan keadaan kenapa sosok yang cintanya besar seperti kamu harus disia-siakan dan dimanfaatkan oleh orang yang salah."

Setetes air mata mulai menggenang di sudut mata Arsene, namun ia membiarkannya. Ia merasa berhak untuk merasa sakit malam ini.