Arsene keluar dari mobilnya dengan gerakan yang tenang, meski badai di dalam dadanya belum sepenuhnya reda. Ia baru saja kembali dari galeri rumahan milik beberapa seniman kecil, sebuah pelarian singkat untuk mendinginkan otaknya yang mendidih. Membeli lukisan dari seniman yang belum memiliki nama besar selalu menjadi cara Arsene menyembuhkan luka batinnya sendiri.

Ia melangkah masuk ke rumah, menjinjing dua lukisan berukuran sedang di kedua tangannya. Langkahnya mantap menyusuri foyer yang sunyi hingga akhirnya ia tiba di ruang tengah. Namun, langkah itu terhenti seketika. Di sana, di pusat rumahnya sendiri, ia melihat Teza. Pria itu tampak begitu santai dalam balutan kemeja milik Estevão yang berantakan, seolah ia adalah pemilik sah tempat ini.

Dada Arsene terasa sesak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak mengkristal dan melukai paru-parunya.

"Hi" ucap Teza tanpa rasa bersalah sedikit pun, nada suaranya begitu enteng seakan mereka hanya teman lama yang sedang bertamu.

Alih-alih meledak dalam kemarahan, Arsene justru menarik napas dalam dan memamerkan senyum lebarnya yang paling menawan. Senyum yang penuh kepalsuan namun tampak sempurna.

"Hi, Estevão di mana?" tanya Arsene dengan nada ringan, seolah keberadaan Teza di sana tidak mengganggu ketenangannya sama sekali.

"Babe!" panggil Teza dengan suara yang cukup lantang. Tak lama kemudian, Estevão keluar. Pria itu tampil tanpa atasan, hanya mengenakan celana baju tidur, memperlihatkan tubuh kekarnya.

"Arsene cari kamu" ucap Teza tenang, tangannya dengan berani mengelus rahang tajam Estevão di hadapan Arsene.

Estevão hanya menatap Arsene dengan tatapan yang luar biasa dingin, mata gelapnya seolah memandang Arsene sebagai gangguan yang tidak diinginkan di pagi harinya yang indah.

"Kalian sudah makan?" tanya Arsene tetap ramah, suaranya tetap terjaga tanpa getaran.