Arsene sekarang sudah berada di unit tempat tinggal Nara. Begitu pintu terbuka, aroma gurih ayam goreng yang dipesan melalui layanan antar langsung menyambut indra penciumannya. Nara sudah menyiapkan segalanya di meja makan, lengkap dengan berbagai macam sauce yang diminta Arsene sebelumnya.
"Katanya 15 menit, malah jadi satu jam" protes kecil Nara sambil berkacak pinggang, melihat sahabatnya yang baru saja masuk dengan napas sedikit terengah.
"Sorry, sorry. Btw, lo harus bantuin gue" ucap Arsene tanpa basa-basi. Ia langsung menaruh dua lukisan yang baru saja ditandatangani oleh Estevão dan Teza di atas meja, mengabaikan ayam goreng yang menggoda itu untuk sejenak.
Ia langsung membalikkan kedua kanvas itu, menunjukkan tulisan tangan yang masih baru di belakangnya, lalu menyalakan layar ponselnya yang menampilkan foto surat misterius yang ia dapatkan di kantor Victor.
"Coba bandingin tulisan ini. And gue punya tulisan Samuel juga, gue nemu di buku tamu satpam rumah" ucap Arsene dengan cepat, menyodorkan ponselnya ke hadapan Nara.
"Anjir" ucap Nara yang kaget melihat keseriusan Arsene, namun ia langsung mendekat dan memperhatikan ponsel itu dengan teliti.
Nara mulai membandingkan tiga sampel tulisan tangan itu,milik Estevão, Teza, dan Samuel, dengan foto surat teka-teki di layar ponsel. Ia memicingkan mata, meneliti setiap lekukan huruf dan tekanan tinta yang terekam di sana.
"Ini..." ucap Nara menggantung, wajahnya berubah tegang.
"Gue ngerasa kita mikirin orang yang sama" sahut Arsene dengan nada yang tak kalah tegang.
"Kayaknya iya..." ucap Nara pelan.