Tim Victor, yakni Larry dan Tom, sudah berada di gallery milik Arsene, berdiri tegak di tengah kegelapan luar gallery yang hanya diterangi lampu jalanan. Mereka menunggu dengan saksama hingga perhatian mereka teralih oleh suara deru halus mesin listrik. Semuanya agak terkejut saat melihat sebuah mobil EV berwarna pink mencolok membelah kesunyian malam, dan saat pintu terbuka, muncul sosok Arsene bersama Nara yang melangkah dengan terburu-buru.
"Sorry terlambat" ucap Arsene singkat, napasnya sedikit memburu.
Ia langsung merogoh saku, mengeluarkan kunci, dan membuka pintu besar gallery-nya sendiri. Tanpa menunggu aba-aba, ia langsung melangkah masuk, memimpin tim kecil itu menembus bayangan-bayangan gelap di antara deretan karya seni.
"Kenapa kamu merasa jawabannya ada di sini?" tanya Victor dengan suara yang cukup dalam, suaranya menggema di langit-langit galeri yang tinggi, menciptakan suasana yang semakin menekan.
"Karena dia bilang tempat yang familiar tapi tidak bisa saya jamah. Secara legal tempat ini tidak bisa saya jamah karena ini secara tidak langsung milik Estevão sampai saya bisa melunasi semuanya" sahut Arsene yakin. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari sesuatu yang mungkin tidak pada tempatnya.
"Tapi kan kamu tau itu bukan faktanya, tempat ini tidak pernah menjadi tempat sengketa secara hukum" ucap Victor tenang, mencoba mengembalikan Arsene pada logika yang lebih dingin.
"Mungkin Teza tidak tahu akan hal itu" balas Arsene cepat.
Ia tidak peduli pada fakta hukum sekarang, ia hanya peduli pada bagaimana isi kepala Teza bekerja. Ia mulai mencari ke setiap sudut, diikuti oleh Larry, Tom, dan Nara yang juga mulai bergerak memeriksa setiap celah.
"Jadi Teza yang membuat surat itu?" tanya Larry sambil berlutut, merogoh bagian bawah pot besar pohon hias di sudut ruangan, berharap menemukan sesuatu yang disembunyikan di sana.
"Iya, kita udah buat cocoklogi sama tulisannya" ucap Nara yang juga sedang sibuk menggeser beberapa bingkai foto di meja resepsionis.