Arsene dan Nara sekarang mereka terdiam di dalam mobil Nara, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, seakan mereka sedang menunggu matahari terbit. Di luar, langit mulai berubah menjadi abu-abu kebiruan, namun suasana di dalam kabin mobil terasa begitu berat. Mereka sudah mencari di setiap gallery yang diberikan Estevão pada Arsene tapi nihil, tidak ada satu pun petunjuk yang membantu mereka memecahkan teka-teki surat itu.
"Lo tau gak apa yang bisa buat gue agak goyah sama dia?" ucap Arsene menatap jalan lurus di pinggir jalan, matanya tampak kosong karena kelelahan dan beban pikiran.
"Kenapa?" tanya Nara dengan suara lembut, memberikan ruang bagi sahabatnya untuk menumpahkan apa yang mengganjal.
"Karena dia selalu memastikan gue gak akan pernah punya masalah" ucap Arsene dengan pelan, suaranya nyaris berbisik.
"Maksudnya?" tanya Nara yang langsung memfokuskan perhatiannya kepada Arsene, sedikit terkejut mendengar pengakuan itu di tengah rencana mereka menghancurkan Estevão.
"Dulu awal kita nikah, gallery gue ada yang lempari batu sampai kaca-kacanya pecah. Dia datang malem-malem ke gallery gue. Dia marah sama gue, tapi dia juga yang ganti jendela yang rusak itu dalam sekejap." ucap Arsene mengenang momen itu.
"Disaat gue minta apa, langsung dia kasih... walau gue tau gue itu bikin dia pusing. Gue dari dulu selalu mengusahakan semua hal sendiri, jadi kalau gue dapat perhatian kecil dari orang lain gue akan goyah dengan cepat. Gue tuh agak seneng kalau gue lihat dia mulai hilang arah dulu karena Teza yang akhirnya gak jadi cerai, pasti rasanya kecewa berat. Tapi di satu sisi gue mikir dia gak seharusnya merasakan sedih, dia selalu ngutamain kenyamanan gue, jika gue gak berulah" ucap Arsene mengingat semua hal yang kontradiktif tentang suaminya.
"Gue ini hidupnya jauh dari kata sempurna. Orang tua gue ninggalin gue, Ibu gue kabur entah kemana dan Ayah gue? Gue juga gak tau nasibnya gimana sekarang" ucap Arsene pelan, ada nada perih setiap kali ia membahas tentang keluarganya yang hilang.
"Dulu... dia yang dateng ke gallery gue bawa puluhan orang mengancam akan hancurin gallery gue kalau gue gak lunasin hutang itu... lo tau sendiri kan Ra... gue bikin gallery ini dari gue umur 19 tahun. Gue kerja mati-matian, gue nabung, kepala jadi kaki - kaki jadi kepala, gak mungkin gue relain gitu aja. Gallery ini kayak anak gue... dan keluar lah kata-kata gue akan ngelakuin apa aja asalkan gallery ini tetap milik gue" jelas Arsene pelan.
"Dan muncul lah kesepakatan pernikahan ini" ucap Arsene menarik napas dalam.