Bau kopi begitu menyengat di kantor Victor malam itu, menjadi satu-satunya aroma yang menjaga mereka tetap terjaga di tengah keputusasaan. Mereka berlima duduk melingkar di ruangan itu, dikelilingi oleh coretan skenario dan kemungkinan-kemungkinan gila yang ada untuk memecahkan teka-teki surat ini. Ketegangan terasa hampir nyata, seolah-olah waktu sedang merayap di atas kulit mereka.
"Surat ini gue hafal mampus, Temui aku pada nafas terakhir masa, pada kegelapan abadi, langkahmu penentu akhirnya. Ini gue hafal, tapi gue gak ngerti maksudnya apa, jingan!" ucap Nara frustrasi sembari mengacak rambutnya kasar.
Victor terkekeh pelan melihat Nara yang sudah berada di ambang batas kesabarannya.
"Jangan ketawa lo!" bentak Nara yang langsung mendelik kesal ke arah Victor.
"Kalau dipikir-pikir, nafas terakhir masa itu bukan hanya jam dua belas malam kan?" ucap Larry tiba-tiba, memecah perdebatan kecil itu dengan nada serius.
"Maksud kamu?" tanya Arsene yang mulai tertarik, matanya yang lelah kini kembali menajam, fokus sepenuhnya pada Larry.
"Bisa jadi maksudnya hari Minggu? Karena itu adalah hari terakhir pada sepekan" ucap Larry, mencoba mencari probabilitas yang mungkin terdengar langka namun masuk akal dalam dunia teka-teki gelap seperti ini.
"Bisa jadi. Karena laporan dari agen menyebutkan Teza sudah keluar dari rumah Estevão pukul lima sore tadi. Mungkin hari ini aksinya..." ucap Tom yang mulai yakin, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang cepat.
"Tapi ada yang aneh dari 'kegelapan abadi'. Kalau misalnya akhir nafas itu hari Minggu, terus jam berapa dia mau kita temui?" tanya Victor, mencoba menyusun potongan puzzle yang masih bolong.
"Jam delapan malam" ucap Arsene lirih, namun suaranya terdengar begitu pasti. Sebuah kilatan pemahaman baru saja menghantam otaknya.