Mereka semua sudah berada di dalam galeri itu. Di bawah temaram lampu yang menyisakan bayangan panjang di lantai, mereka berlima bersiap dengan perasaan degup jantung yang tak keruan. Seluruh indra mereka dipertajam, menunggu sosok yang mereka duga adalah Teza muncul dari balik kegelapan. Mata mereka terpaku pada jam dinding, melihat jarum detik yang merayap perlahan menuju angka dua belas tepat di pukul delapan malam.

Namun saat detik itu tiba.

Tidak terjadi apa-apa. Sunyi.

Hanya suara napas mereka yang saling bersahutan di ruangan yang luas itu.

"Tunggu sebentar, mungkin tidak tepat jam delapan" ucap Victor, mencoba menenangkan suasana yang mulai mendingin. Mereka menunggu lagi dengan penuh ketegangan, namun dua menit kemudian tetap tidak terjadi apa-apa. Galeri itu tetap kosong, membisu seperti makam.

"Ini kayaknya tempatnya yang salah" gumam Arsene. Suaranya mulai bergetar karena panik yang mulai menjalar.

"Kalau tempatnya salah, berarti orang itu sedang menunggu kita di tempat lain sekarang" timpal Tom, suaranya terdengar ragu.

"FUCK FUCK FUCK! SEN, AYO COBA MIKIR!" raung Arsene, ia benar-benar kesal pada dirinya sendiri.

Permainan ini benar-benar membuatnya gila.

Logikanya yang biasanya tajam seolah tumpul di bawah tekanan waktu yang terus berputar.