Mereka sudah sampai di depan pintu unit tempat tinggal Arsene dulu, lantai enam belas, tepat di atas unit Nara. Dengan alat canggih yang dibawa Victor, mekanisme kunci itu terbuka dengan dentuman kecil yang memecah kesunyian koridor.

Pintu terayun terbuka, dan seketika yang mereka lihat hanyalah kehampaan yang mencekam.

Gelap.

Dingin.

Sunyi.

Unit itu kosong melompong, hanya menyisakan debu yang menari di bawah sorot lampu koridor. Pemandangan itu membuat Arsene semakin frustrasi, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia merasa seperti tikus yang sedang digiring masuk ke dalam labirin tanpa ujung.

"Surat itu datang kapan?!" tanya Arsene dengan nada tinggi, napasnya tersengal karena frustrasi yang memuncak.

"Setelah kita melakukan penyamaran. Hari Rabu." sahut Victor, matanya menyipit waspada memperhatikan kegelapan di dalam unit kosong itu.

Arsene terdiam.

Otaknya bekerja dengan kecepatan gila, membedah setiap inci ingatannya.