Arsene baru saja menginjakkan kaki di kediamannya yang lebih mirip seperti makam mewah, dingin, megah, dan mati. Beberapa pelayan menyambutnya dengan tundukan kepala yang terlalu kaku, seolah mereka takut bahkan hanya untuk sekadar menghirup udara yang sama dengannya. Ia melangkah melewati lorong-lorong sunyi sebelum akhirnya memasuki kamarnya sendiri. Ya, kamarnya terpisah jauh dari kamar Estevão, sebuah sekat tak kasat mata yang menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi keintiman di antara mereka.
Di atas kasur yang tertata rapi tanpa cela, matanya menangkap sebuah kotak persegi. Sebuah ponsel baru, persis seperti permintaannya.
"Setidaknya dia masih kasih ponsel baru" gumam Arsene pendek.
Ada rasa getir yang menyelinap; betapa murahnya harga dirinya hingga sebuah gawai mahal saja sudah terasa seperti sebuah pencapaian. Ia segera masuk ke kamar mandi, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, berusaha membasuh jejak-jejak penghinaan yang menempel di kulitnya setelah pertemuan di lantai 81 tadi.
Saat waktu makan malam tiba, Arsene turun ke ruang makan dengan langkah santai. Namun, langkahnya tertahan sejenak saat melihat sosok tinggi itu sudah berada di sana. Suaminya pulang. Tidak ada percakapan, tidak ada tatapan menyambut. Mereka seperti dua entitas asing yang kebetulan terjebak di bawah atap yang sama, berbagi oksigen namun saling mematikan eksistensi satu sama lain.
Arsene mulai menyuap makanan yang dihidangkan oleh juru masak pribadi. Rasanya hambar di lidahnya, meski itu adalah hidangan kelas dunia. Ia tidak sedikit pun menoleh ke arah Estevão, yang tak lama kemudian bangkit dan keluar dari ruang makan tanpa suara, meninggalkan keheningan yang mencekik.
Inilah kesehariannya. Sunyi, hening, namun terasa seperti neraka yang perlahan membakar kewarasannya.
Arsene melamun, menatap gelas air putih yang masih terisi penuh di depannya. Refleksi wajahnya di permukaan air terlihat lelah dan kosong. Dulu, saat remaja, ia sempat bermimpi akan menikah dan hidup bahagia dengan seseorang, sebuah angan-angan klasik yang kini terasa seperti dongeng sampah. Kenyataannya, ia harus hidup seperti ini. Hidup seperti budak yang bahkan tidak tahu di mana letak kesalahannya hingga harus menanggung dosa orang lain.
Mungkin jika Estevão bersikap sedikit saja lebih manusiawi, segalanya akan terasa lebih ringan. Arsene memang tidak mencintai pria itu, tapi alangkah baiknya jika Estevão memiliki hati untuk melihatnya sebagai manusia, bukan sekedar aset yang bergerak.
Bagi Arsene, Estevão Salvador adalah sosok yang terlalu angkuh, terlalu tak tersentuh, dan terlalu tidak nyata.