Arsene berdiri di pekarangan rumahnya yang luas, dikelilingi oleh bayang-bayang pohon yang tampak seperti jemari hitam yang berusaha menggapainya di bawah cahaya bulan yang redup.
Ia bersikeras pulang sendiri, memaksakan diri untuk memisahkan diri dari Victor dan Nara. Rencananya sederhana namun nyaris mustahil, ia akan bersikap seolah-olah malam ini tidak pernah terjadi. Ia akan berpura-pura tidak pernah melihat mayat yang mendingin itu.
Ia mulai melangkah masuk ke dalam rumah megah itu. Setiap langkah kakinya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti dentuman lonceng kematian di telinganya sendiri. Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sesak. Ia ingin lari, ingin terbangun dari mimpi buruk ini, namun ia tahu ia justru baru saja melangkah masuk ke pusat badai.
Wajah Ambar yang pucat pasi dalam kubangan darah itu terus terbayang, terpatri di balik kelopak matanya setiap kali ia berkedip.
Begitu sampai di dapur yang sunyi dan steril, Arsene dengan tangan gemetar mengambil segelas air putih dingin. Ia berharap cairan itu bisa menetralkan detak jantungnya yang liar, namun baru seteguk air itu menyentuh kerongkongannya, ia merasa mual yang hebat. Dengan gerakan kasar, ia membuang sisa air itu ke wastafel.
Ia menyalakan keran, membiarkan air mengalir deras. Arsene mencuci tangannya berkali-kali dengan sabun hingga kulitnya memerah dan perih. Padahal, ia tahu persis ia tidak menyentuh setetes pun darah Ambar di apartemen tadi, tapi pikirannya terus berteriak bahwa tangannya kotor.
Pikirannya melayang pada Nara, apakah sahabatnya itu aman bersama Victor? Ia tidak mungkin membawa mereka ke sini. Rumah ini bukan lagi tempat tinggal, ini adalah kandang iblis yang dibalut kemewahan.
Arsene meletakkan gelasnya di wastafel dengan bunyi denting yang tajam. Ia mengatur napas, menoleh ke kanan dan ke kiri. Rumah itu sunyi senyap, tanpa suara pelayan, tanpa suara langkah kaki. Ia yakin Estevão tidak ada di rumah. Setidaknya, itulah yang ia harapkan.
Ia mulai berjalan keluar dari area dapur, kakinya bergerak menuju tangga besar yang meliuk naik ke lantai atas, tempat kamarnya berada. Hanya beberapa langkah lagi menuju tangga, hanya sedikit lagi ia bisa mengunci diri di kamar.
Namun, tepat sebelum kakinya menginjak anak tangga pertama, seluruh bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat berat dan dingin, kecuali di satu titik di belakang lehernya. Embusan napas itu tidak terburu-buru, melainkan tenang dan ritmis, menandakan sang pemilik suara sama sekali tidak tersulut emosi, melainkan sedang menikmati setiap inci ketakutan yang terpancar dari tubuh Arsene.