Arsene membalikkan badannya dengan napas yang memburu hebat, paru-parunya seolah terbakar oleh oksigen yang mendadak menipis. Di hadapannya, kegelapan seolah memadat di sekitar sosok suaminya. Estevão berdiri di sana, diam tak bergerak, namun jemarinya sudah menggenggam Glock hitam yang dingin. Senjata itu tampak begitu menyatu dengan tangan sang predator. Arsene berjalan mundur perlahan, kakinya gemetar hebat saat menyadari moncong senjata itu bisa meletus kapan saja.

Tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Arsene, Estevão mengangkat tangannya dengan gerakan malas, mengarahkan pistol itu secara asal ke arah chandelier kristal raksasa yang menggantung jauh di belakang dirinya.

DAR!

Tanpa perlu melihat, Estevão menembak tepat pada rantai pengait chandelier tersebut. Suara logam hancur diikuti dengan dentuman kristal yang jatuh berantakan ke lantai marmer menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga. Arsene terpekik, ia meringkuk melindungi kepalanya saat pecahan kristal memantul di sekitarnya seperti serpihan berlian tajam.

Lalu, di tengah kekacauan itu, ia mendengar kekehan pelan sang iblis.

"Tu t’amuses bien, mon trésor?" (Kamu bersenang-senang, sayangku?) tanyanya dengan nada yang membuat bulu kuduk Arsene meremang. Arsene tidak mengerti bahasanya, tapi seringai di wajah suaminya memberikan jawaban yang lebih dari cukup.

Arsene melangkah mundur lagi, kakinya lemas tak bertulang.

"K-kenapa kamu melakukan ini?" tanya Arsene dengan suara yang nyaris hilang.

"Kenapa kamu tidak ceraikan saya saja?"

Estevão tetap diam di tempatnya, berdiri tegak seperti malaikat pencabut nyawa.