Hari ini, Arsene memutuskan untuk tidak menampakkan batang hidungnya di galeri. Atmosfer rumah mewah yang sunyi ini jauh lebih menarik untuk dieksplorasi saat sang pemilik tidak ada. Ia bekerja dari rumah, namun pikirannya tidak tertuju pada kurasi seni. Ia melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri lorong panjang yang dingin menuju satu ruangan yang sejak awal sudah ditegaskan sebagai zona terlarang baginya.
Ruang kerja Estevão Salvador.
Tepat di atas pintu jati besar itu, sebuah kamera CCTV terpasang dengan lampu indikator merah yang berkedip pelan, seperti mata iblis yang mengawasinya. Arsene berhenti tepat di bawahnya. Tanpa rasa takut, ia mendongak dan mengarahkan jari tengahnya tepat ke arah lensa tersebut. Sebuah pernyataan perang yang sunyi. Ia berharap Estevão melihatnya dari balik layar monitor di kantor pusat, ia ingin pria itu murka, ia ingin pria itu datang dan membunuhnya saja sekalian, daripada membiarkannya membusuk dalam pernikahan formalitas yang menjijikkan ini.
Arsene mencoba memutar kenop pintu. Anehnya, pintu itu tidak dikunci dengan pin atau pengaman canggih lainnya. Mungkin Estevão terlalu percaya diri bahwa tidak ada seorang pun yang cukup bodoh atau berani untuk masuk ke sana.
Begitu kakinya melangkah masuk, aroma oud dan alkohol segera menyapa. Ruangan itu dipenuhi rak-rak buku yang menjulang tinggi dan koleksi botol minuman keras yang tertata rapih, menciptakan kesan maskulinitas yang kaku dan gelap. Dengan langkah santai yang lancang, Arsene berjalan menuju meja kerja utama dan menduduki kursi kulit mewah milik suaminya. Kursi itu masih terasa dingin, namun sangat mendominasi.
Ia mulai menggeledah. Tangannya dengan lincah membuka laci meja satu per satu, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan peluru untuk menyerang balik. Sampai akhirnya, di laci yang paling dalam, ia menemukan sebuah foto.
Di sana, Estevão tampak lebih muda, berdiri bersisian dengan Teza Wiratmaja. Sorot mata Estevão di foto itu... berbeda. Tidak ada kebencian, hanya ada kilat emosi yang tidak pernah ia tunjukkan pada Arsene.
"Jadi cinta lama? Terus kenapa mereka gak menikah aja?" tanya Arsene pada kekosongan ruangan. Dahinya berkerut dalam. Ia melihat tumpukan memori lain, surat-surat lama, foto-foto di tempat yang tampak privat, semuanya membuktikan bahwa hubungan mereka sudah terjalin jauh sebelum Arsene terseret ke dalam neraka Salvador.
"Kenapa... Teza menikah sama Naira?" tanya Arsene pada dirinya sendiri.
Pikirannya mulai berputar liar. Jika Estevão begitu mencintai Teza, apa yang menghalangi mereka? Secara status, mereka adalah pasangan yang sempurna. Keduanya adalah anak konglomerat. Keluarga Teza bahkan tidak memiliki beban hutang sepeser pun kepada keluarga Salvador, sangat berbeda dengan posisi keluarga Wirasena yang mengenaskan. Pasti akan jauh lebih menguntungkan bagi Salvador jika mereka bersatu.