Sesampainya di gedung Danureja, Arsene dan Nara, sahabatnya yang ia seret secara mendadak itu, langsung dipandu oleh asisten dari Naira menuju lift eksklusif.
"Ini ngapain gue di sini?" tanya Nara dengan suara rendah, matanya melirik waspada pada setiap sudut gedung yang dijaga ketat itu.
"Jadi alibi gue" bisik Arsene singkat tanpa menoleh.
"Hah?" Nara semakin bingung, namun ia tidak punya pilihan selain mengikuti langkah kaki Arsene yang mantap hingga mereka sampai di lantai tertinggi, tempat di mana Naira Danureja bekerja.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang begitu bersih, rapi, dan cantik, mencerminkan sosok Naira yang memang menawan secara fisik. Namun, bagi mata seorang kurator seperti Arsene, keindahan ruangan ini terasa terlalu steril, seolah-olah sang pemilik sedang mencoba menutupi sesuatu yang berantakan di dalamnya.
"Selamat datang, aku pikir kamu akan datang sendiri" sambut Naira dengan senyuman lebar. Namun, Arsene bisa melihat ada retakan di balik binar matanya. Perempuan ini sedang terluka, bahkan mungkin lebih parah darinya.
"Iya, saya membawa teman saya ke sini jika kamu tidak keberatan" jawab Arsene tak kalah ramah, mencoba mencairkan suasana yang sebenarnya sangat kaku.
Naira melirik Nara sejenak, lalu kembali menatap Arsene.
"Tapi kalau aku ingin berbicara berdua saja, boleh?"
"Tenang, teman kamu akan kami layani dengan baik. Kita sudah menyiapkan high tea untuk Nona jika berkenan" ucap Naira sopan kepada Nara.