⚠️⚠️⚠️⚠️


Arsene duduk di ruang tengah yang luas dan dingin, tangannya menggenggam sebuah buku dengan hard cover yang sangat tebal. Secara fasad ia tampak tenang, namun matanya tidak benar-benar membaca deretan kata di sana. Ia sedang menunggu. Menunggu satu sosok yang sebentar lagi akan keluar untuk mengkhianati komitmen pernikahan sampah ini.

Dan benar saja, tak lama kemudian langkah kaki yang berat itu terdengar. Estevão berjalan melewati ruang tengah, menuju akses ruang tamu dan pintu utama dengan aura dominasi yang tak tertandingi.

"Jangan pergi" ucap Arsene lirih namun tegas. Ia tahu persis ke mana suaminya malam itu akan pergi. Tentunya menemui selingkuhannya, Teza.

Estevão tidak menghiraukannya sedikit pun, seolah suara Arsene hanyalah gangguan angin lalu.

"Saya bilang jangan pergi" ucap Arsene sekali lagi, suaranya mulai bergetar oleh amarah yang tertahan.

Tapi tentu saja, siapa dirinya yang bisa menahan langkah kaki seorang Estevão Salvador? Pria itu terus melangkah, mengabaikan eksistensi Arsene di ruangan itu.

"JANGAN PERGI BANGSAT!" teriak Arsene.

Dalam satu gerakan eksplosif, ia melempar buku tebal di tangannya ke arah Estevão. Buku itu melayang cepat dan menghantam dinding dengan dentuman keras, tepat satu inci di samping tubuh Estevão.

Langkah pria itu terhenti. Keheningan yang tercipta setelahnya terasa begitu pekat dan beracun. Dengan kecepatan yang mengerikan, Estevão berbalik dan menyambar kerah baju Arsene, menariknya hingga kaki pria itu nyaris terangkat dari lantai. Matanya menyalang merah dan napasnya memburu Le Loup Noir sekarang tengah menunjukkan taringnya tepat di depan wajah Arsene.