Estevão berdiri mematung di dalam ruangan khusus yang tersembunyi jauh di balik labirin dinding mansionnya. Ruangan itu adalah altar bagi obsesinya,sebuah tempat rahasia di mana ia menyembunyikan koleksi senjata api mematikan dan sistem teknologi mutakhir yang mampu memantau seluruh sudut yang ia mau. Cahaya temaram di sana memantul pada permukaan logam senjata-senjata yang dingin, menciptakan suasana yang mencekam dan berbau pelumas besi.

Ia melirik layar ponselnya sejenak. Sebuah pesan dari Samuel masuk, melaporkan bahwa Arsene telah berangkat ke kantor. Ia tidak peduli. Keberadaan Arsene baginya hanyalah gangguan statistik, sebuah bidak yang ia letakkan di papan catur hanya untuk menutupi langkah aslinya.

Jemari panjangnya bergerak perlahan, membelai laras sebuah senapan dengan sentuhan yang hampir terasa seperti belaian kasih sayang.

"Pourquoi m'as-Tu donné soif de ce qui est maudit ? J'aime cette laideur, et c'est Ta faute." (Mengapa Engkau memberiku rasa haus akan sesuatu yang terkutuk? Aku mencintai keburukan ini, dan ini adalah kesalahan Mu.)

Ucapannya bergema pelan, sebuah hujatan lancang yang ia tujukan kepada Tuhan. Estevão tahu benar bahwa apa yang ia rasakan adalah sebuah penyimpangan yang membusuk, sebuah dosa yang tidak akan pernah diampuni, namun ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk berhenti. Baginya, rasa sakit dan kehancuran adalah bahasa yang paling ia kuasai.

Teza seharusnya menjadi miliknya.

Teza tidak bisa menjadi milik orang lain.

Teza dilahirkan hanya untuknya.

Pikiran itu tertanam begitu dalam di otaknya yang keji dan sadis, berakar seperti ayat-ayat terkutuk yang terus dibisikkan oleh iblis di telinganya. Baginya, tiada orang lain di semesta ini yang berhak memeluk hatinya selain Teza.

Ia telah terbiasa hidup dalam kesengsaraan yang ia ciptakan sendiri, ia sudah sangat akrab dengan segala hal yang haram dan terkutuk. Persetan dengan dunia, persetan dengan moralitas, dan persetan dengan nyawa siapa pun yang harus ia tumbalkan… termasuk Arsene. Ia hanya ingin Teza berada bersamanya, terikat selamanya dalam kegelapan yang sama.

Tiba-tiba, keheningan ruangan itu dipecah oleh dering ponselnya. Estevão melirik layar. Nama yang muncul di sana seketika membuat denyut nadinya yang dingin berdetak lebih cepat, meski wajahnya tetap sekaku topeng porselen.