Aku, Arsene Wirasena, sudah genap dua puluh tujuh tahun menghirup udara di dunia ini. Sebagai seorang kurator seni rupa, aku terbiasa menilai estetika, makna di balik kanvas, dan keindahan yang tersirat. Namun, hidupku sendiri adalah sebuah potret kelam yang tidak memiliki ruang untuk keindahan. Di luar sana, orang mengenalku sebagai "suami Tuan Salvador". Sebuah gelar yang terdengar megah, namun bagiku, itu adalah rantai dingin yang mencekik leherku hingga nyaris putus.

Sosok di hadapanku ini adalah sang pemilik rantai tersebut.

Le Loup Noir.

Serigala Hitam yang haus darah.

Estevão Salvador duduk dengan kaki bersilang, angkuh di atas singgasana kekuasaannya. Mata tajamnya menatapku hina, seolah aku hanyalah bangkai busuk yang mengotori karpet mahalnya. Suara baritonnya baru saja membelah kesunyian yang mencekam, melontarkan kata-kata yang lebih tajam dari belati manapun, mengiris kulitku perlahan tanpa membiarkanku mati.

"Marah?" tanyanya dingin, suaranya terdengar seperti gesekan logam di atas kuburan.

Aku hanya bisa terdiam, mengepalkan tangan di samping tubuh hingga kuku-kukuku memutih dan menusuk telapak tangan. Dadaku sesak, bukan karena amarah yang meledak, tapi karena rasa sakit yang sudah tumpul akibat terlalu sering dihujam belati yang sama. Atmosfer di ruangan ini mendadak terasa berat, seolah oksigen ditarik keluar secara paksa oleh keberadaannya yang dominan.

"Kamu memerlukan cinta? Love is ridiculously overrated" lanjutnya dengan seringai yang merendahkan, sebuah ekspresi predator yang baru saja mematahkan tulang mangsanya.

Logikaku ingin berteriak, tapi kamu mencintainya!.

Kamu memiliki ruang untuk perasaan itu, tapi mengapa hanya untukku pintu itu tertutup rapat, digembok besi, dan dibiarkan membusuk dalam kegelapan?