Sebelum masuk ruang operasi untuk persalinan, Arsene sedang berbaring dengan tenang di atas kasur. Di sisinya, Estevão nampak sangat sibuk menciumi setiap jengkal wajah suaminya yang sebentar lagi akan berjuang melakukan persalinan. Ada gurat kecemasan yang ia tutupi dengan kasih sayang yang meluap-luap.

"Je t'aime" ucap sang dominan dengan suara rendah, jemarinya terus bergerak lembut mengelus kepala dan menciumi kening Arsene.

"Je t'aime" ulangnya lagi, seolah kata itu adalah satu-satunya pelindung yang ia punya.

"Je t'aime" lagi dan lagi, tanpa ada tanda-tanda ingin berhenti.

Arsene terkekeh pelan melihat tingkah suaminya yang luar biasa protektif itu.

"Aku tau kamu cinta aku, Cal..."

Namun, Estevão tetap saja menciuminya dan terus memanjakannya. Ia hanya ingin suaminya merasa siap dan tenang saat persalinan nanti, terutama karena ia sendiri tidak akan ada di dalam ruang operasi, sebuah pilihan dari dokter agar kondisi ruangan tetap higienis.

"Sebentar lagi Baby E akan bersama kita" ucap Arsene yang nampak sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan putri kecil mereka.

"Iya, sayang..." balas Estevão manis kepada suaminya yang terlihat begitu semangat.

"Aku tidak sabar!" seru Arsene lagi, matanya berbinar ingin segera melihat putrinya.